Urip-uripan

— Bagi orang Jawa, dodol-dodolan adalah bukan dodol atau jualan sesungguhnya. Pacar-pacaran bukanlah pacaran sesungguhnya. Mobil-mobilan bukanlah dengan mobil sesungguhnya. Urip-uripan…. —

Kata para kiai dan Ustad, kita diturunkan ke alam dunia sebagai bentuk hukuman karena ulah moyang kita. Entah yang dimaksud peristiwa itu adalah memang sekenario Tuhan ataukah ulah Adam as yang memanfaatkan kenabianya sehingga beliau punya alasan untuk menjadikan keturunanya sabagai khalifah di bumi. Atau mungkin memang benar itu adalah hukuman sebagaimana manusia memahami kata tersebut. Tapi semuanya kembali pada maha kuasa Allah SWT. Terserah Tuhan mau apakan kami. Saya berserah saja. Wallahu A’lam

Jenis kita, manusia, sudah dipersilahkan mampir di macro cosmos ini. Itu adalah sanksi. Bentuk Hukuman/sanksi untuk beberapa saat saja, untuk beberapa kali planet memutari sebuah bintang, atau menurut orang jawa dan arab adalah beberapa kali bulan menampakan bentuknya yang sempurna. Kalau begitu saya pikir yang dimaksud masa-masa ini (dunia) adalah sesuatu yang seharusnya tidak mengenakan atau siksaan ( ??? ) disebabkan kesalahan kita, sebagaimana layaknya sanksi yang kita dapat dari peanggaran yang kita lakukan di dunia. Lalu letak hidup yang sesungguhnya dimana? Kata Syekh Lemah Abang, hidup sesungguhnya adalah “setelah mati dari dunia” atau “setelah kita meninggalkan dunia” yang berarti diluar dimensi sekarang atau bisa saja “saat moyang kita dulu masih menikmati surga”. Itulah hidup, hidup yang kekal, langgeng, dan tiada terusik lagi. Sedang menurut pemahaman saya, dunia ini, macro cosmos/maha karya Tuhan yang sedang kita nikmati, alam hasil perkawinan dari terciptanya ruang dan waktu yang diawali dengan ledakan besar, adalah fana karena suatu saat akan lenyap; penuh dengan tipu muslihat dimana terasa sesuatu itu ada tapi sebenarnya tiada (tidak kekal) dan tiada tapi itulah yang justru ada ; penuh jebakan dalam batasan kemampuan inderawi; saling menjatuhkan sesama; dan sifatnya sangat sebentar.

Hidup itu seharusnya kekal. Sedang kita sedang mati dimana disini manusia tidak hanya merasa senang tapi juga sedih, bimbang, kesepian, muak, menderita, sakit dsb layaknya didalamnya ada perpaduan surga dan neraka. Memang seperti inilah hukuman. Kita adalah mayat yang sedang berjalan kian kemari dalam keadaan bingung dan selalu terkena tipu muslihat dan terjebak atas ketidakpahaman makna dunia serta tidak paham siapa kita (manusia) sesungguhnya. Pikiran kita hanya seputar bagimana untuk mencari makan, pakaian, rumah, uang, pasangan, dan sesuatu yang lain yang sebenarnya fana. Sesuatu yang membuat kita bangga, pamer, dan sombong. Itu yang menjadikan manusia terikat dan justru seolah memberikan kekuasaan yang maha kepada dunia. Tunduk dan takut jika tidak mendapatkan isinya. Sangat bertentangan dengan peran kita sebagai makhluk penerima khilafah yang semestinya mengatur dan manaklukan isi dunia. Tunggu saja saatnya Tuhan menghidupkan kita. Bisa saja manusia harus segera melepaskan masa kematian ini.

Dengan jalanya kematian ini, diperoleh alasan untuk menentukan kehidupan seperti apa yang nantinya kita dapatkan. Baik tidaknya kehidupan nanti, semuanya sesuai dengan apa yang kita jalankan di saat kematian ini serta bagimana memperlakukan kekuasaan dan ke-karepan yang prerogative dari Tuhan atas semuanya. Siksaan tersebut adalah sesuatu yang pahit bagi manusia. Namun, menurut saya lebih baik manusia menerima dan menikmati semuanya disebabkan kecintaan dan ketulusan manusia yang luar biasa terhadap Tuhanya, Allah SWT. Singkatnya, apapun yang Engkau perlakukan kepada kami, kami sudah semestinya menerima dengan ketulusan dan dengan pemahaman yang benar tentang keinginan Engaku. Karena aku cinta Engkau maka aku menerima apapun yang Engkau kehendaki termasuk hukuman ini. Sehingga bijaksananya, tidak sepantasnya kami mengharapkan para bidadari yang cantik atau rumah yang mewah karena keabaikan yang kami lakukan semasa mati di dunia. Kesempatan saya dalam wujud makhluk, hamba, diri dan raga ini, serta berada disini lebih dari cukup untuk dijadikan alasan untuk bersyukur dan itu tidak terbantahkan. Kesempurnaan sebagai manusia akan diperlakukan dengan sebaik-baiknya untuk menundukkan dunia dan memanfaatkan isinya karena itu adalah amanah. Mungkin itu yang Engkau maksudkan untuk umat manusia.

Depok, 21 Maret 2011 Pukul 16:01 WIB

Rakhmat Lukmeidi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s