Manajemen Pengemis

Manajemen pengemis bukanlah sebuah nama mata kuliah ataupun sebuah teori. Dalam studinya fakultas ekonomi ataupun business school manapun tidak ditemui istilah itu, nama yang agak mirip, yang saya tahu, adalah ekonomi kemiskinan, tidak ada yang namanya manajemen pengemis. Saya sekedar membahasakan tingkah laku seorang pemngemis dengan kepintaranya ke dalam kata-kata yang lebih modern dan nyaman untuk di dengar. Begitu saya mengulas tentang apa yang diceritakan di artikel ini, saya semakin mengetahui kalau ternyata bangsa ini  memang luar biasa pintar dan berpotensi menjadi negara besar, bukan karena SDA yang dimiliki tapi karena kepintaran manusianya untuk mengalihkan dan berpaling dari jalan yang sudah disediakan oleh Tuhan.

Gang sawo merupakan salah satu akses menuju stasiun UI Depok, gang yang selalu sibuk dari pukul lima pagi sampai pukul sepuluh malam, gang yang menyenangkan bagi mata saya disebabkan banyak mahasiswi “berkualitas” mondar-mandir, rugi rasanya kalo mata ini tidak awas. Intinya di jalan yang sempit inilah lokasi yang benar-benar menjadi perburuan bagi para wiraswasta untuk mengais rizki.

Dilokasi itu ada kakek pengemis dengan kakinya yang dibungkus bak pepesan. Bermodalkan mangkok dan togkat, beliau meminta-minta pada orang sekitar. Sebut saja namanya pak Dadang_karena yang saya tahu omongan beliau kayak orang Bogor. Beliau pandai memilih lokasi yang strategis untuk usahanya secara gratis, tidak perlu keluar ongkos kontra kios ukuran 4×3 m seharga 17 juta per tahun. Beliau juga lihai mengatur waktu, memanfaatkan perkembangan jaman, dan sepertinya tahu betul apa itu Planning, Organizing, Staffing, Motivating, and Controlling.

Saat pagi hari, beliau diantar menggunakan sepeda motor menuju tempat kerja, yang berada pinggir pagar. Memang sangat sederhana kantor beliau. Mangkok pun disiapkan di depannya dan bersiaplah memajang diri dengan tampang yang terlihat polos. Sepanjang pagi sampai sore koin dan kertas bernilai pun berjatuhan seperti turun dari langit. Sore atau malam harinya beliau menelpon supir untuk menjemput menggunakan hand phone. HP selalu beliau siapkan untuk berkoordinasi dengan orang diluar. Supir pun datang menjemput Pak Dadang bak pejabat dijemput ajudan. Beberapa bulan rutinitas semacam itu dilakukan tiap hari kerja, yaitu hari senin sampai jumat. Sabtu dan minggu libur.

Beberapa waktu kemudian persaingan mulai terlihat dengan adanya pengemis lain. Itu mungkin belum begitu masalah. Namun, beberapa saat kemudian datang satu keluarga pengemis dengan kemasan yang lebih baik, yaitu seorang perempuan dan satu atau dua anaknya (saya lupa ada berapa). Dengan bermodalkan petikan kecapi sepertinya akan lebih menarik perhatian para konsumen sekitar. Pak dadang tidak kehilangan ide, beliau menerapkan benchmarking atas kompetitornya untuk diterapkan pada usahanya. Besoknya beliau membawa seruling bambu khas sunda. Bak musisi Pak Dadang tidak mau kalah dan dimainkanlah seruling itu dengan tangga nada atau skala sundanese. Sedang pengemis lain pun mengikutinya dengan meningkatkan pelayanan, yaitu menyajikan alunan suara organ dan juga pianika. Akhirnya ramailah Gang Sawo bak konser musik.

Beda generasi beda pula strategi berkompetisinya. Mereka yang lebih muda mungkin keluaran dari sekolah yang jauh lebih tinggi tingkatanya, fisik lebih bugar, lebih pandai mengurus mode sesuai zamanya, lebih tampan, lebih cerdas, dan lebih update ilmu-ilmu marketingnya. Mereka mungkin juga ekspatriat keluaran perguruan ternama dari luar yang balik dan menggerus pengusaha sejati yang sudah berdiri sebelumnya seperti Pak Dadang.

Aduh pesaing macam mana lagi ini”? kira-kira begitu dalam benak Pak Dadang. Pusing melihat rombongan anak muda macam tim orchestra dengan dandanan anak band. Layanan yang disajikan pun membuat Pak Dadang dan lainya seperti orang jaman dulu, mereka tidak tahu apa itu biola, acoustic-electric guitar, amply, electric bass guitar, jimbe, dan saxophone, sebab alat-alat itulah yang anak-anak muda tesebut sajikan. Tidak ada alunan sunda yang terdengar yang ada malah music londo seperti di tv-tv. Nuansa pun sekarang berubah seperti trotoar di belahan bumi Eropa. Menurunlah daya saing Pak Dadang. Pengemis lama akhirnya terjajah

Seperti itulah kejadianya.

Perlu dijadikan penerungan apakah mereka yang mengemis karena mereka miskin materi atau miskin mental.

Kenapa pengemis semakin banyak?

Saya pikir usaha itu cukup menjanjikan. Prospek kedepan bagus sehingga semakin banyak pendatang baru. Kalau prospek bagus, akan lebih baik lagi jika dikelola dengan manajemen yang lebih advance, termasuk oleh lulusan mahasiswa dengan kurikulum yang diadopsi dari ilmu marketing Amerika. Bakal lebih Ok.

Pemerintah harus jeli. Apalagi pemerintah sedang mencari sumber pendapatan Negara untuk menumpuk cadangan devisa. Oleh karena itu sepertinya perlu untuk :

Pertama, membentuk badan hukum khusus untuk usaha semacam itu

Kedua, dengan cara diatas maka pajak memungkinkan untuk ditarik. Maka perlu dibedakan pengemis dengan alat dan tanpa alat. Selanjutnya masukan ke dalam kategori pendapatan dari sector non-migas.

Ketiga, buat system pengemis berbasis syariah untuk mengakomodasi hak-hak mereka yang anti liberal. Bukankah hak semacam itu tidak hanya diperuntukan untuk nasabah bank Syariah? Pengemis juga beriman.

Keempat, kedepan secara bertahap perlu menentukan grade atau tingkat minimal pendidikan untuk pengemis. Yang sebelumnya tanpa sekolah menjadi minimal lulusan SD, SMP, SMA, dan selanjutnya Perguruan Tinggi. Dengan demikian kualitas penyajian pun semakin baik dan semakin beradab pula.

Terakhir, buat perwakilan khusus untuk melindungi hak-hak mereka di kusi DPR. Siapa tahu suatu saat ada salah satu dari mereka untuk ikut pemilu gubernur atau wali kota atau bahkan tingkat nasional sebagai pimpinan rakyat. Dijamin rakyat akan sejahtera sebab pimpinan semacam itu sudah digembleng dengan situasi yang penuh sengsara.

Disini membuktikan bahwa orang yang hidup di negeri ini harus pintar, bagaimanapun kondisinya. Pintar tidak diasosiasikan dengan keluaran perguruan tinggi bahkan tanpa sekolah pun bisa mencapai kepintaran dalam berusaha seperti Pak Dadang. Untuk menjadi pengemis saja harus pintar dan pandai memanajemen usahanya secara mandiri. Kekayaan nusantara tidak menjamin suatu negeri akan makmur dan sejahtera secara adil. Mungkin negeri ini bisa besar ketika dalam kondisi yang terdesak seperti negara Eropa yang miskin SDA namun maju secara peradaban, rakyat mereka selalu cari jalan keluar, dan mau tidak mau harus berfikir keras. Seperti halnya pengemis diatas yang luar biasa. Pengemis di negeri yang kaya raya dengan sumber daya alam yang melimpah. Salut untuk mereka.

Depok, 9 Maret 2011 Pukul 03:02 WIB

Rakhmat Lukmeidi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s