Kenapa Saya Diam

Diam saya adalah berfikir. Menganalisis apa yang ada dan tidak ada dihadapan saya. lebih dari itu, analisis dan imaginasi saya bekerja menjalar kemana saja dengan begitu produktif. Sangat rumit memang, sangkin rumitnya saya sulit untuk menterjemahkan tentang apa yang saya pahami kedalam sebuah komunikasi bahasa. Ketika saya katakan Jakarta sampai Jogja, dan ketika orang lain juga menangkap demikian lurusnya, jauh dalam dari itu bahwa saya bermaksud mengatakan Sabang sampai Merauke.

Butuh waktu yang cukup lama bagi saya untuk menangkap permasalahan yang sebenarnya. Menangkap dan memahami sebab terhadap sesuatu, dan sebab dari yang menyebabkan sesuatu tersebut, bagaimana sebab-sebab itu dapat timbul, siapa yang menimbulkan, serta mencari faktor lain sekalipun jauh diluar dari permasalahan untuk dikaitkan dengan sebuah permasalahan yang saya hadapi. Semua itu menambah daftar alasan mengapa saya “diam”.

Jangan pula menduka hal yang baik-baik saja yang saya putar dikepala saya. Tak ada seorang pun di didekat saya yang mengetahui tentang apa yang ada dalam kepala saya, bahkan sekalipun saya tunjukan lewat komunikasi. Mungkin saya sedang mencari sebuah solusi optimal, mungkin saya sedang memikirkan sesuatu yang harus saya kerjakan setelahnya, bahkan sangat mungkin dalam hati saya sedang mengkritik dan menggunjingi akan sikap anda dan rekan-rekan didepan saya, termasuk dalam tingkatan kekesalan tertentu  dalam hati saya meludahi anda_yang saya lakukan daripada mentelanjangi siapa saja yang tidak sepemahaman dengan saya didepan sekian banyak orang yang ada, serta mungkin-mungkin saja imaginasi saya yang terlalu bebas untuk membayangkan seperti apa anda bila dalam keadaan telanjang.

Depok, 25 April 2009_Pkl 23:08 WIB

Rakhmat Lukmeidi

12 responses to “Kenapa Saya Diam

  1. haha, masa med??

    “Jangan pula menduka hal yang baik-baik saja yang saya putar dikepala saya. Tak ada seorang pun di didekat saya yang mengetahui tentang apa yang ada dalam kepala saya, bahkan sekalipun saya tunjukan lewat komunikasi.”

    curhat med?? hehe..

    ya jelaslah gak ada yg tahu pasti apa yg ada dalem utekmu? lahh saiki aku takon:
    1. kamu melihat utekmu ora? ora
    2. kamu mendengar bunyi utekmu ora? ora

    brarti sampeyan ora due utek! haha, trus piye arep nerka opo sing ana ning jero utekmu?? hehe..

    *just blog walking..*

  2. Wah, anda terlalu linear untuk menanggapi sesuatu.

  3. linear thinking = step-by-step thinking algorithm.
    -> one steps can’t be done before previous step is taken..

    whats wrong with linner thinking?hehe..

    jelasna owh, pandangane nt kepiben?

  4. Artine nt kudu lewat lawang mburi ben ora ketahuan belange. Sadurunge muter-muter disit, telusuri tiap pojok rumah. Tapi biasane hasile paradoks karo kebanyakan orang.

  5. assalaamu’alaykum wa rohmatullaahi wa barokaatuh,
    med, enko suka mikir ya med?
    ahaha

  6. Alaikumussalam..

    Gak juga. Ini otak buat aksesoris doang hehehe..
    Makanya aku gampang stress wis.

  7. iya si med, keliatan enko kalo di jalan mikir molo, jadi keliatan banyakmasalah. hahahahaha

  8. ah, gak enah nih,..banyak yang bilang kalau ekspresiku keliatan banyak masalah

  9. hmmm… gt…

    tp salut wt mz meidi, cz adakalanya ia serius n kritis
    tapi ada kalanya juga kocak
    hehehe🙂

  10. Eh Kade…
    Ya mungkin gitu……….Tapi aku gak sekritis itu. Mungkiiiin🙂

  11. kadang diam tu slah n kdag pla diam tu bner…

    slam knal….

    kunjungi blog saya

  12. Betul, salam kenal juga

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s