Hikmah Pemilu USA

Ada yang harus menjadi pelajaran bagi Masyarakat Indonesia termasuk para politisi dari pemilihan presiden USA. Berbeda dengan apa yang terjadi di negeri ini, sang pemenang, obama, menyatakan siap bekerjasama dengan mantan pesaingnya McCain untuk memberikan perubahan yang lebih baik bagi Amerika. Di depan masyarakat USA, Mccain juga mengakui kekalahan atas pesaingnya, Obama. Obama dinilai pantas mendapatkan hasil yang memuaskan, yaitu menjadi pemimpin negara karena kerja keras dan ketekunanya.

Selanjutnya, konflik antar partai Demokrat dan Republik pun seakan usai. Tinggal bagaimana kedua partai tersebut secara bersama-sama bekerja keras untuk bangsa Amerika.

Apa yang saya ceritakan diatas benar-benar berbeda dengan yang terjadi di Indonesia. Tidak hanya saat pemilihan presiden, pemilihan dibawahnya, seperti pilkada pun sering terjadi konflik. Seakan tidak siap menghadapi kenyataan, pihak yang tersingkir selalu mengompori publik bahwa adanya ketidakadilan dalam proses pemilihan, kecurangan dsb. Begitu pemerintah yang baru mulai berjalan, persaingan semakin jelas menunjukkan perbedaan dan konflik. Satu pihak / partai yang kalah berusaha menjatuhkan pihak lain/dalam pemerintahan dengan mengada-ada kesalahan demi mendapat simpati dari masyarakat. Akibatnya, masyarakat menjadi objek permainan, masyarakat ingin bermain lebih pintar dengan berdasar pengalaman yang lalu, namun politisi di partai ternyata lebih cerdik. Akhirnya masyarakatlah yang di bodohi. Pihak lain / yang berkuasa di pemerintahan selalu mengelak dari kesalahan yang di tuduhkan oleh lawan politik. Akibatnya, pemerintah tidak setulus hati bekerja untuk rakyat karena disisi lain harus menghadapi ancaman dari lawan politiknya.

JIka Lawan politik dari pemerintah hanya sebagai pihak yang menyoroti kinerja pemerintah agar kebijakan lebih berhati-hati dan serius, menyiapkan kader yang lebih berkompetensi untuk mendatang, itu adalah hal yang baik. Namun ketika, mereka memutarbalikan fakta di balik kebikajakan pemerintah terkait keadaan ekonomi, sosial, dan budaya, itu sudah termasuk tindakan yang tidak proaktif dalam membangun negara apalagi pengetahuan dan kedewasaan masyarakat indonesia akan ekonomi, sosial, dan perpolitikan masih rendah.

Itu hanya pendapat dari saya. Anak muda yang masih butuh banyak pelajaran dari pengalaman.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s