Islam : Takwil Mimpi

Menakwilkan mimpi itu didasarkan kepada Firasat, sementara manusia dalam hal ini berbeda-beda. Takwil mimpi adalah seperti takwil isyarat, pemahaman, Hads (insting) dan kekuatan daya ingat di mana Allah menganugerahkannya kepada orang yang Dia kehendaki dari para hamba-Nya. Sehingga menjadi kekhususan bagi sebagian manusia, di mana tidak dimiliki oleh sebagian yang lain. Tidak perlu semua umat ini menjadi para penakwil mimpi, dan tidak perlu adanya rujukan agar menjadi seperti itu.

Berdasarkan hal di atas, maka para penakwil mimpi terpercaya itu adalah kalangan ahli Firasat yang mengetahui bahwa mimpi itu sering mengacaukan seorang yang bermimpi. Ahlam (mimpi-mimp buruk) itu berasal dari setan dan Ru`ya (mimpi-mimpi baik) itu berasal dari Allah. Ru`ya itu merupakan satu bagian dari empat puluh enam bagian kenabian. Terlalu berani (lancang) terhadapnya merupakan kelancangan yang besar. Karenanya, pelu sikap wara’ dan mengetahui petunjuk-petunjuk bahasa, serta realitas manusia dan kebiasaan-kebiasaan mereka. Bila manusia mendapatkan suatu tingkatan Firasat dan kecerdasan memberikan kepantasannya atas hal itu. Sementara, tidak semua manusia pantas atas hal itu.

Sedangkan mengetahui kitab Tafsir Ahlam (Takwil Mimpi) karya Ibn Sirin, maka penisbatannya kepada seorang Tabi’ terkenal, Imam Muhammad bin Sirin (wafat 119 H) itu tidaklah benar. Tidak seorang pun dari kalangan Tabi’in yang mengarang sebuah kitab pun. Orang-orang pertama yang mengarang buku adalah Malik bin Anas, Ibn Juraij, Abdul Malik bin Shabih dan Husyaim al-Wasithi. Mereka itulah orang-orang pertama yang mengarang buku. Semua mereka itu berasal dari kalangan para pengikut Tabi’in (Tabi’ut Tabi’in). Jadi, buku ini tidak benar dinisibatkan kepada Muhammad bin Sirin rahimahullah.

Sementara tafsir yang dinisbatkan kepada Ibn ‘Abbas radhiallahu ‘anhuma, yang dikenal dengan nama Tanwir al-Miqbas Fi Tafsir Ibn ‘Abbas dan dicetakn berulang kali; maka buku ini bukanlah termasuk buku-buku tentang takwil mimpi. Ia adalah tafsir al-Qur`an. Namun ia bukanlah karangan Ibn ‘Abbas, tetapi karangan Muhammad bin Ya’qub al-Fairuz Abadi, pengarang buku al-Qamus al-Muhith (wafat 817 H). Di dalamnya, ia mengumpulkan tafsir yang diriwayatkan dari Ibn ‘Abbas radhiallahu ‘anhuma. Akan tetapi sangat disayangkan, ia menghadirkannya dari jalur-jalur yang paling lemah. Ia menghadirkannya dari riwayat Muhammad bin as-Sa`ib al-Kalbi, dari Abu Shalih dari Ibn ‘Abbas.

Sanad ini dikenal di kalangan para ahli hadits sebagai sanad bohong. Tafsir apa saja yang diriwayatkan dari Ibn ‘Abbas, dari jalur Muhammad bin as-Sa`ib al-Kalbi, dari Abu Shalih, maka ia Maudhu’ Matruk (palsu yang mesti ditinggalkan), sehingga tidak dapat dijadikan pegangan.

(Sumber: tanya jawab tentang takwil mimpi, oleh Syaikh Muhammad al-Hasan ad-Dadau, seorang da’i Islam, situs el Islam el Youm)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s