Kesalahan Umum Dalam Mengirimkan CV Pada Lulusan Baru

Curriculum vitae adalah representasi diri. Tetapi para lulusan baru sering mengirim CV yang bikin geleng-geleng kepala. Karena kurang referensi, mereka kerap melakukan kesalahan yang tidak disadari. Memang tidak mutlak membuat mereka ditolak, tetapi memperkecil peluang diterima.

Nah, jika Anda seorang lulusan baru yang sedang berburu kerja dan tidak kunjung mendapat panggilan, jangan-jangan Anda melakukan beberapa kesalahan ini.

Foto

Jika perusahaan mensyaratkan foto dalam lamaran kerja, pilihlah foto yang membuat Anda terlihat profesional. Jangan pakai foto yang diambil dari Facebook hanya karena Anda tampil menarik (atau seksi). Bagaimana Anda mau dianggap serius bila foto yang dilampirkan terlihat main-main dan hasil crop?

Continue reading

Job Fair ITB

Info Jobfair ( tolong bantu sebarkan info ini, mudah2n jadi kesempatan baik bagi saudara/rekan kita yang lain ). Titian Karir Terpadu kembali akan dilaksanakan tanggal 14 – 16 Oktober. 2011 mulai pukul 09:00 – 17:00 bertempat di Sasana Budaya Ganesha (SABUGA) ITB.
Untuk saat ini perusahaan yang sudah konfirmasi ikut berpartisipasi:
Unilever (Sponsor Platinum)
Astra International (Sponsor Silver)
Continue reading

UI Peringkat Terbaik di Indonesia Tahun 2011/2012

Berdasarkan penilaian yang dikeluarkan Quacquarelli Symonds (QS) World University Ranking 2011/2012 pada 5 September, Universitas Indonesia (UI) berada pada peringkat ke-217 (peringkat 236 pada 2010). QS World University Ranking 2011/2012 yang menilai lebih dari 600 perguruan tinggi terbaik di dunia menempatkan UI sebagai satu-satunya Perguruan Tinggi di Indonesia yang masuk dalam Top 300 Universities in the World.

Dibandingkan dengan peringkat 2010, UI meningkat secara signifikan yaitu sebanyak 19 tingkat yaitu peringkat ke-217 (skor 45.10). Pada 2010 UI berada pada urutan ke-236 (skor 42.56). UI mengungguli sejumlah perguruan tinggi favorit di dunia seperti University of Notre Dame, United States (urutan ke-223, skor 44.8), Mahidol University Thailand (urutan ke-229, skor 43.10), University of Technology, Sydney Australia (urutan ke-268, skor 39.7).

Continue reading

Urip-uripan

— Bagi orang Jawa, dodol-dodolan adalah bukan dodol atau jualan sesungguhnya. Pacar-pacaran bukanlah pacaran sesungguhnya. Mobil-mobilan bukanlah dengan mobil sesungguhnya. Urip-uripan…. —

Kata para kiai dan Ustad, kita diturunkan ke alam dunia sebagai bentuk hukuman karena ulah moyang kita. Entah yang dimaksud peristiwa itu adalah memang sekenario Tuhan ataukah ulah Adam as yang memanfaatkan kenabianya sehingga beliau punya alasan untuk menjadikan keturunanya sabagai khalifah di bumi. Atau mungkin memang benar itu adalah hukuman sebagaimana manusia memahami kata tersebut. Tapi semuanya kembali pada maha kuasa Allah SWT. Terserah Tuhan mau apakan kami. Saya berserah saja. Wallahu A’lam

Jenis kita, manusia, sudah dipersilahkan mampir di macro cosmos ini. Itu adalah sanksi. Bentuk Hukuman/sanksi untuk beberapa saat saja, untuk beberapa kali planet memutari sebuah bintang, atau menurut orang jawa dan arab adalah beberapa kali bulan menampakan bentuknya yang sempurna. Kalau begitu saya pikir yang dimaksud masa-masa ini (dunia) adalah sesuatu yang seharusnya tidak mengenakan atau siksaan ( ??? ) disebabkan kesalahan kita, sebagaimana layaknya sanksi yang kita dapat dari peanggaran yang kita lakukan di dunia. Lalu letak hidup yang sesungguhnya dimana? Kata Syekh Lemah Abang, hidup sesungguhnya adalah “setelah mati dari dunia” atau “setelah kita meninggalkan dunia” yang berarti diluar dimensi sekarang atau bisa saja “saat moyang kita dulu masih menikmati surga”. Itulah hidup, hidup yang kekal, langgeng, dan tiada terusik lagi. Sedang menurut pemahaman saya, dunia ini, macro cosmos/maha karya Tuhan yang sedang kita nikmati, alam hasil perkawinan dari terciptanya ruang dan waktu yang diawali dengan ledakan besar, adalah fana karena suatu saat akan lenyap; penuh dengan tipu muslihat dimana terasa sesuatu itu ada tapi sebenarnya tiada (tidak kekal) dan tiada tapi itulah yang justru ada ; penuh jebakan dalam batasan kemampuan inderawi; saling menjatuhkan sesama; dan sifatnya sangat sebentar.

Hidup itu seharusnya kekal. Sedang kita sedang mati dimana disini manusia tidak hanya merasa senang tapi juga sedih, bimbang, kesepian, muak, menderita, sakit dsb layaknya didalamnya ada perpaduan surga dan neraka. Memang seperti inilah hukuman. Kita adalah mayat yang sedang berjalan kian kemari dalam keadaan bingung dan selalu terkena tipu muslihat dan terjebak atas ketidakpahaman makna dunia serta tidak paham siapa kita (manusia) sesungguhnya. Pikiran kita hanya seputar bagimana untuk mencari makan, pakaian, rumah, uang, pasangan, dan sesuatu yang lain yang sebenarnya fana. Sesuatu yang membuat kita bangga, pamer, dan sombong. Itu yang menjadikan manusia terikat dan justru seolah memberikan kekuasaan yang maha kepada dunia. Tunduk dan takut jika tidak mendapatkan isinya. Sangat bertentangan dengan peran kita sebagai makhluk penerima khilafah yang semestinya mengatur dan manaklukan isi dunia. Tunggu saja saatnya Tuhan menghidupkan kita. Bisa saja manusia harus segera melepaskan masa kematian ini.

Dengan jalanya kematian ini, diperoleh alasan untuk menentukan kehidupan seperti apa yang nantinya kita dapatkan. Baik tidaknya kehidupan nanti, semuanya sesuai dengan apa yang kita jalankan di saat kematian ini serta bagimana memperlakukan kekuasaan dan ke-karepan yang prerogative dari Tuhan atas semuanya. Siksaan tersebut adalah sesuatu yang pahit bagi manusia. Namun, menurut saya lebih baik manusia menerima dan menikmati semuanya disebabkan kecintaan dan ketulusan manusia yang luar biasa terhadap Tuhanya, Allah SWT. Singkatnya, apapun yang Engkau perlakukan kepada kami, kami sudah semestinya menerima dengan ketulusan dan dengan pemahaman yang benar tentang keinginan Engaku. Karena aku cinta Engkau maka aku menerima apapun yang Engkau kehendaki termasuk hukuman ini. Sehingga bijaksananya, tidak sepantasnya kami mengharapkan para bidadari yang cantik atau rumah yang mewah karena keabaikan yang kami lakukan semasa mati di dunia. Kesempatan saya dalam wujud makhluk, hamba, diri dan raga ini, serta berada disini lebih dari cukup untuk dijadikan alasan untuk bersyukur dan itu tidak terbantahkan. Kesempurnaan sebagai manusia akan diperlakukan dengan sebaik-baiknya untuk menundukkan dunia dan memanfaatkan isinya karena itu adalah amanah. Mungkin itu yang Engkau maksudkan untuk umat manusia.

Depok, 21 Maret 2011 Pukul 16:01 WIB

Rakhmat Lukmeidi

Roti Gosok

Sampai sekarang saya masih belum bisa melupakan beberapa pengalaman saya pas di asrama. Pengalaman pertama saat saya masih terlihat ingusan dilingkungan kampus serta banyak lagi pengalaman lain disana, terutama eksperimen hebat dan mutakhir saya dalam hal kuliner yang mungkin kalau itu dilanjutkan sampai sekarang bakal menjadi menu terpopuler abad ini.. hwahaha Lebay euy…

Jangan heran, ini adalah menu yang dibuat dengan proses penyajian ekstra cepat dan ala chef kelas Eropa (yang biasanya berhubungan dengan roti2 gitu deh..)

Kuliner apaan sih…. ??? kesueeennn..

Biasanya diantara kita mendengar Roti bakar atau Roti panggang_yang biasanya kita jumpai di rumah makan dan kantin atau bahkan Warung Kopi di pinggir jalan. Namun itu pastinya tidak bisa saya temui pas saya tinggal di asrama. Solusinya ya saya harus bikin menu alternatif pengganti makanan diatas. Untuk membuatnya berikut bahan2 yang dibutuhkan :

1. Minimal dua lembar roti tawar
2. Selai atau margarin atau apalah yang bisa dioles-olesin ke roti. Asal jangan balsem wkwkwkwk
3. Dua lembar kertas kosong atau satu lembar kertas minimal ukuran A4 (jangan kertas bekas, ntar keracunan)
Sampai disini terlihat aneh????
dan ini dia yang ke 4, senjata pemungkas, yaitu, Upss, strika. Disaranin merek Philips, (soalnya punya saya juga Philips..hihihi) kelebihan dari philips wuih panas banget kalo dipegang..whahaha..
Langsung Med…

Ayo Kita memasak atau persisnya ‘menggosok’ dan sejenak kita singkirkan pakaian2 kita yang masih kusut :
Tahap 1, Colokin tuh strika ke sumber listrik, kecuali baterai (gak mempan)
Tahap 2, Sembari menunggu strika panas, olesin sepasang roti dengan selai atau mentega atau margarin doang kalo terpaksa gak punya duit lagi.
Tahap 3, langsung aja ambil kertas dan selipin dua lapis roti ditengah kertas tanpa diteken (baca ‘tekan’_kena kau).
Tahap 4, Strika udah panas tuh, angkat strika, taruh dan biarkan diatas lapisan roti yang dah dilapisi kertas, pindah dan geser-geser dikit kalo dah coklat biar permukaan yang matang rata. Balikin roti, bolak balik,.trusss, pokoknya biar rata lah… (kurang lebih 5 menit)
Tahap 5, Kalo udah terlihat coklat merata, roti siap untuk dimakan,..nyam nyam.. enak.

Ya, itu sekedar sharing yang gak bermutu. Namun boleh saya akui kalau beberapa pelanggan saya memuji kelezatanya,..hehehehe..
Selamat mencoba dan menikmati. Semoga tidak keracunan gara2 kertasnya bekas pakai, wkwkwk

Terimakasih byk untuk Ibu Malikhatun selaku Guru Mata Ajar IPS saat smp yang sudah memberi resep. Semoga beliau dalam lindungan Allah SWT. Saya coba wariskan ke para pembaca yang budiman ini.. ciee

Manajemen Pengemis

Manajemen pengemis bukanlah sebuah nama mata kuliah ataupun sebuah teori. Dalam studinya fakultas ekonomi ataupun business school manapun tidak ditemui istilah itu, nama yang agak mirip, yang saya tahu, adalah ekonomi kemiskinan, tidak ada yang namanya manajemen pengemis. Saya sekedar membahasakan tingkah laku seorang pemngemis dengan kepintaranya ke dalam kata-kata yang lebih modern dan nyaman untuk di dengar. Begitu saya mengulas tentang apa yang diceritakan di artikel ini, saya semakin mengetahui kalau ternyata bangsa ini  memang luar biasa pintar dan berpotensi menjadi negara besar, bukan karena SDA yang dimiliki tapi karena kepintaran manusianya untuk mengalihkan dan berpaling dari jalan yang sudah disediakan oleh Tuhan.

Gang sawo merupakan salah satu akses menuju stasiun UI Depok, gang yang selalu sibuk dari pukul lima pagi sampai pukul sepuluh malam, gang yang menyenangkan bagi mata saya disebabkan banyak mahasiswi “berkualitas” mondar-mandir, rugi rasanya kalo mata ini tidak awas. Intinya di jalan yang sempit inilah lokasi yang benar-benar menjadi perburuan bagi para wiraswasta untuk mengais rizki.

Dilokasi itu ada kakek pengemis dengan kakinya yang dibungkus bak pepesan. Bermodalkan mangkok dan togkat, beliau meminta-minta pada orang sekitar. Sebut saja namanya pak Dadang_karena yang saya tahu omongan beliau kayak orang Bogor. Beliau pandai memilih lokasi yang strategis untuk usahanya secara gratis, tidak perlu keluar ongkos kontra kios ukuran 4×3 m seharga 17 juta per tahun. Beliau juga lihai mengatur waktu, memanfaatkan perkembangan jaman, dan sepertinya tahu betul apa itu Planning, Organizing, Staffing, Motivating, and Controlling.

Saat pagi hari, beliau diantar menggunakan sepeda motor menuju tempat kerja, yang berada pinggir pagar. Memang sangat sederhana kantor beliau. Mangkok pun disiapkan di depannya dan bersiaplah memajang diri dengan tampang yang terlihat polos. Sepanjang pagi sampai sore koin dan kertas bernilai pun berjatuhan seperti turun dari langit. Sore atau malam harinya beliau menelpon supir untuk menjemput menggunakan hand phone. HP selalu beliau siapkan untuk berkoordinasi dengan orang diluar. Supir pun datang menjemput Pak Dadang bak pejabat dijemput ajudan. Beberapa bulan rutinitas semacam itu dilakukan tiap hari kerja, yaitu hari senin sampai jumat. Sabtu dan minggu libur.

Beberapa waktu kemudian persaingan mulai terlihat dengan adanya pengemis lain. Itu mungkin belum begitu masalah. Namun, beberapa saat kemudian datang satu keluarga pengemis dengan kemasan yang lebih baik, yaitu seorang perempuan dan satu atau dua anaknya (saya lupa ada berapa). Dengan bermodalkan petikan kecapi sepertinya akan lebih menarik perhatian para konsumen sekitar. Pak dadang tidak kehilangan ide, beliau menerapkan benchmarking atas kompetitornya untuk diterapkan pada usahanya. Besoknya beliau membawa seruling bambu khas sunda. Bak musisi Pak Dadang tidak mau kalah dan dimainkanlah seruling itu dengan tangga nada atau skala sundanese. Sedang pengemis lain pun mengikutinya dengan meningkatkan pelayanan, yaitu menyajikan alunan suara organ dan juga pianika. Akhirnya ramailah Gang Sawo bak konser musik.

Beda generasi beda pula strategi berkompetisinya. Mereka yang lebih muda mungkin keluaran dari sekolah yang jauh lebih tinggi tingkatanya, fisik lebih bugar, lebih pandai mengurus mode sesuai zamanya, lebih tampan, lebih cerdas, dan lebih update ilmu-ilmu marketingnya. Mereka mungkin juga ekspatriat keluaran perguruan ternama dari luar yang balik dan menggerus pengusaha sejati yang sudah berdiri sebelumnya seperti Pak Dadang.

Aduh pesaing macam mana lagi ini”? kira-kira begitu dalam benak Pak Dadang. Pusing melihat rombongan anak muda macam tim orchestra dengan dandanan anak band. Layanan yang disajikan pun membuat Pak Dadang dan lainya seperti orang jaman dulu, mereka tidak tahu apa itu biola, acoustic-electric guitar, amply, electric bass guitar, jimbe, dan saxophone, sebab alat-alat itulah yang anak-anak muda tesebut sajikan. Tidak ada alunan sunda yang terdengar yang ada malah music londo seperti di tv-tv. Nuansa pun sekarang berubah seperti trotoar di belahan bumi Eropa. Menurunlah daya saing Pak Dadang. Pengemis lama akhirnya terjajah

Seperti itulah kejadianya.

Perlu dijadikan penerungan apakah mereka yang mengemis karena mereka miskin materi atau miskin mental.

Kenapa pengemis semakin banyak?

Saya pikir usaha itu cukup menjanjikan. Prospek kedepan bagus sehingga semakin banyak pendatang baru. Kalau prospek bagus, akan lebih baik lagi jika dikelola dengan manajemen yang lebih advance, termasuk oleh lulusan mahasiswa dengan kurikulum yang diadopsi dari ilmu marketing Amerika. Bakal lebih Ok.

Pemerintah harus jeli. Apalagi pemerintah sedang mencari sumber pendapatan Negara untuk menumpuk cadangan devisa. Oleh karena itu sepertinya perlu untuk :

Pertama, membentuk badan hukum khusus untuk usaha semacam itu

Kedua, dengan cara diatas maka pajak memungkinkan untuk ditarik. Maka perlu dibedakan pengemis dengan alat dan tanpa alat. Selanjutnya masukan ke dalam kategori pendapatan dari sector non-migas.

Ketiga, buat system pengemis berbasis syariah untuk mengakomodasi hak-hak mereka yang anti liberal. Bukankah hak semacam itu tidak hanya diperuntukan untuk nasabah bank Syariah? Pengemis juga beriman.

Keempat, kedepan secara bertahap perlu menentukan grade atau tingkat minimal pendidikan untuk pengemis. Yang sebelumnya tanpa sekolah menjadi minimal lulusan SD, SMP, SMA, dan selanjutnya Perguruan Tinggi. Dengan demikian kualitas penyajian pun semakin baik dan semakin beradab pula.

Terakhir, buat perwakilan khusus untuk melindungi hak-hak mereka di kusi DPR. Siapa tahu suatu saat ada salah satu dari mereka untuk ikut pemilu gubernur atau wali kota atau bahkan tingkat nasional sebagai pimpinan rakyat. Dijamin rakyat akan sejahtera sebab pimpinan semacam itu sudah digembleng dengan situasi yang penuh sengsara.

Disini membuktikan bahwa orang yang hidup di negeri ini harus pintar, bagaimanapun kondisinya. Pintar tidak diasosiasikan dengan keluaran perguruan tinggi bahkan tanpa sekolah pun bisa mencapai kepintaran dalam berusaha seperti Pak Dadang. Untuk menjadi pengemis saja harus pintar dan pandai memanajemen usahanya secara mandiri. Kekayaan nusantara tidak menjamin suatu negeri akan makmur dan sejahtera secara adil. Mungkin negeri ini bisa besar ketika dalam kondisi yang terdesak seperti negara Eropa yang miskin SDA namun maju secara peradaban, rakyat mereka selalu cari jalan keluar, dan mau tidak mau harus berfikir keras. Seperti halnya pengemis diatas yang luar biasa. Pengemis di negeri yang kaya raya dengan sumber daya alam yang melimpah. Salut untuk mereka.

Depok, 9 Maret 2011 Pukul 03:02 WIB

Rakhmat Lukmeidi

ToniJack’s vs McDonald Mana yang lebih baik?

Sebelumnya, harap isi penelitian ToniJack’s dan McDonald di link berikut :

Penelitian

Penelitian sekedar untuk tugas kuliah

Sosro.

Suryo mengharapkan pihak McDonald tidak melakukan kampanye hitam dan bersaing secara sehat dengan resto cepat saji dengan merek dagang asli Indonesia itu. “Namanya memang kebarat-baratan, tapi ini asli Indonesia, sehingga tidak bayar royalti yang membuat harga makanan dan minumannya lebih bersaing dan terjangkau,” katanya.

Sementara itu Dirut PT Tonijack’s Indonesia Didit Permana mengatakan pihaknya akan mengembangkan gerai dengan sistem waralaba mulai tahun depan. Saat ini, resto tersebut memiliki 13 gerai.

“Saat ini sudah ada sekitar 50 peminat waralaba, namun yang serius sekitar 15,” kata Didit. Tahun depan pihaknya juga berencana menambah lima cabang baru.

Pengembangan sistem waralaba untuk perluasan gerai akan difokuskan di Jawa dan Bali, setelah itu Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi.

s:KapanLagi..